Lapar Hidung , Lapar Emosi


Sebetulnya saya tidak terlalu suka kopi yang  ngepop di kalangan yuppies itu, warung kopi dengan brand perempuan bermahkota dan logo berwarna hijau khas. Bagi saya, kopinya terlalu cair dan masam.

Namun, gara-gara saya sering menggunakan tempat itu untuk bertemu kolega, lama-lama saya terbiasa dengan aromanya. Begitu masuk ke dalam ruangan, bau khasnya benar-benar menguasai bukan saja hidung saya, melainkan juga ibarat menguasai jiwa dan raga.

Apalagi kalau cafe mungil ini ada di sekitar bandara. Wah, sensasinya semakin menggoda hidung saya. Belum lagi ketika ada orang yang memesan kue kering keju dan minta dipanaskan, langsung aroma keju memenuhi ruangan.

Sebagaimana lapar mata, ada juga istilah lapar hidung atau lapar penciumanaroma lapar hidung. Kondisi yang awalnya tidak lapar, begitu melewati restoran ayam goreng cepat saji tiba-tiba menjadi ingin makan. Kondisi perut yang sebetulnya sudah penuh, tiba-tiba memesan brownies ice cream cake karena aroma pesanan kue dari meja sebelah begitu menggoda.  Lapar hidung ini masuk kategori lapar emosi yang bukan disebabkan suasana hati namun karena organ penciuman

Ada hal yang menarik ketika kita sedang flu. Penciuman kita tersumbat sehingga tidak dapat menikmati aroma makanan.

Ketika hal itu terjadi, biasanya seseorang tidak dapat menikmati makanan dengan nyaman.  Jelas sekali bahwa pengaruh ”aroma” sangat erat kaitannya dengan nafsu makan.

Namun, positifnya, begitu sensor penciuman hilang, seseorang justru akan makan hanya sebanyak yang diperlukan oleh tubuh. Dan akhirnya, sensor di lidah pun akan berfungsi dengan optimal. Seseorang akan lebih memperhatikan ada berapa rasa di dalam makanannya, seperti manis, asin, asam, pedas, atau pahit. Akhirnya tekstur makanan pun akan lebih diperhatikan. Padat, halus, atau kasar.

Mengapa sekarang hampir semua resto meletakkan tukang masaknya di bagian depan atau di bagian terbuka?

Karena mereka tahu bahwa menggoda penciuman adalah cara terbaik untuk mendapatkan pelanggan.

Lapar hidung tidak perlu turun ke perut karena sebenarnya hidung hanya butuh sensasi aroma tertentu.  Belum tentu harus memasukkan makanan ke dalam perut. Waspadai Lapar Emosi jenis ini.

Untuk mengalihkannya, cobalah mengetes dengan mencium aroma minyak wangi favorit.

Ketika godaan aroma terlampiaskan dengan fragrance favorit, berarti hidung hanya butuh dimanja sejenak.

by NUNNY HERSIANNA .

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *